Randi Zuckerberg dan bukunya, Dot Complicated

Randi Zuckerberg dan bukunya, Dot Complicated

“… you have to remember that anytime you share, you open yourself up to the judgment of others.

Ketika saya mulai membaca buku ini, saya sudah berasumsi bahwa ini adalah buku yang tidak menarik dan semata-mata ada karena penulis, Randi Zuckerberg ini adalah adeknya Mark Zuckerberg. Belum baca saja sudah punya prejudice. 😀

Tetapi ternyata saya tamat sampai akhir buku. Karena isinya begitu cerdas dan ringan serta relevan untuk orang-orang yang sedang menimbang bagaimana menavigasi hidup pribadinya di Internet. Randi mengulas secara detail bagaimana Internet dan saran untuk navigasi di sisi hidup profesional kita, dalam kehidupan cinta, dalam kehidupan berkeluarga, bersama teman dan tentu saja diri kita sendiri. Setiap sisi dibahas relatif detail di setiap bab dan diakhiri dengan beberapa tips yang bisa dilakukan.

Randi jujur menuliskan pengalaman pribadi dia dalam melakukan beberapa kesalahan mendasar. Sangat menarik karena terlihat bahwa dia juga punya keterbatasan tetapi di saat yang sama juga tidak mau tenggelam dalam kesalahan. Kesalahan yang pertama yang dia tulis di buku adalah saat memposting foto keluarga Zuckerberg saat selesai makan malam dengan rona pura-pura sexting di Facebook.  Foto itu menjadi heboh di media massa karena dianggap melanggar etika online serta privacy. Kehebohan itu musti dia rasakan cukup lama. Well, bahkan adik Mark Zuckerberg yang pernah kerja di facebook pun bisa kena.

Dia juga menuliskan hal yang menarik soal bagaimana kita menavigasi hidup professional kita di Internet. Apakah kita akan sungguh memisahkan kehidupan professional dengan kehidupan pribadi? Apakah kita baiknya juga sharing foto anak-anak kita dan lebih cair atau mendingan tidak sama sekali? Dia memilih untuk sedikit blending dua kehidupan itu. Karena teman-teman kerjanya juga perlu tahu kehidupan pribadi dia. Walaupun dia juga tidak bisa jadi generasi Y secara total yang identitas pribadi atau professional jadi satu.

Ada juga pertanyaan soal apakah bagus juga kalau kita follow twitter atau berteman di facebook dengan bos/ anak buah kita. Dia cerita soal anak buahnya yang sering sekali clubbing dan posting foto-foto yang tidak terlalu sesuai dengan “nafas” pekerjaannya. Apakah kita harus ajak ngobrol atau biarkan saja? Dia memutuskan untuk ngobrol personal dengan anak buahnya dan sepertinya keduanya bisa menyelesaikan dengan baik.

Dia juga cerita bagaimana dia harus menarik garis yang agak blur saat punya anak. Apakah dia harus cerita semua hal dan posting semua foto anak-anaknya? Apakah baiknya hanya beberapa kejadian saja? Dia tidak mau jadi seorang Ibu yang over sharing kehidupan pribadi anak nya (apalagi kalau nanti kena protes anaknya saat besar –kalau ini pendapat saya pribadi); tetapi penting juga buat dia untuk sharing yang dia anggap menyenangkan.

Sesungguhnya garis apa yang boleh atau tidak di Internet itu relatif karena tergantung pilihan kita sebagai individu. Kalau mau sangat terpisah, misalnya nggak mau temenan sama teman kantor, anak buah atau bos di sosial media boleh. Berhubungan dengan mereka yang di lingkarang professional hanya di Linked-in, bisa juga.

Tapi ada beberapa hal mendasar yang ditekankan di buku ini. Internet ini ada sisi yang terang dan gelap. Adalah penting untuk tetap tinggal di bagian yang terang dengan cara misalnya,
– Coba mulai tarik garis yang jelas antara informasi yang bisa ditujukan ke publik dan mana yang informasi personal. Kendati pembedaan keduanya makin blur saat ini, tetapi kita harus makin sadar bahwa informasi kita tidak akan merugikan kita nantinya. Juga jangan lupa cek privacy settings di akun social media kita.
Be true to yourself, baik offline ataupun online. Kalau kita mau pura-pura punya citra jagoan masak tetapi ternyata sama sekali nggak bisa masak, gampang ketahuannya. Integritas itu sesuatu yang didapat dengan waktu lama dan bisa hancur seketika di Internet.
Think before you posting. Ini sebenarnya seperti jargon Internet Sehat; tetapi akan selalu relevan. Pikir baik-baik sebelum kita posting online.  Karena satu klik akan berakibat luar biasa.

Masih banyak lagi cerita dan tips dari Randi yang worth to read. Tidak semuanya harus sepakat karena dia punya nilai yang berbeda dengan diri kita tetapi bagus dijadikan bacaan karena dia sudah melakukan banyak kesalahan juga. 😀

Selesai membaca buku ini, saya menyesal sudah punya prejudice dulu sama Randi.  Memang, kalau kita kebanyakan curiga sama orang sebenarnya rugi karena bisa kehilangan informasi bermakna.

Buku ini ditutup dengan refleksi Randi setelah makan asam garam dicerca di media. “Love me, hate me, but just don’t forget me.” Intinya, akan banyak orang tidak setuju dengan kita tetapi sebaiknya itu tidak perlu menjadi penghalang kita untuk menggunakan Internet secara bijak. Kendati Internet juga punya sisi gelap, kita harus tetap mencoba bersahabat dengan Internet. Sudah tidak saatnya lagi ada utopia dan dis-utopia terhadap kehidupan online. Ini bukan pertanyaan either or; karena sungguh, Internet sudah menjadi bagian penting kehidupan kita. #

Post Script: tunggu seri Resensi Buku saya yang lain ya. Kemungkinan besar akan dengan judul Digital Cosmopolitanism dan yang menulis Ethan Zuckerman. Bukunya sedang dibaca.