#IndonesiaTanpaFPI

#IndonesiaTanpaFPI, diambil sama World Traveler

Dua hari lalu, @uradn tanya kenapa saya anti Front Pembela Islam (FPI). Saya   belum menjawab dengan baik karena sedang berada di tengah meeting. Tetapi pertanyaan itu membuat saya ingin melihat lagi kenapa saya harus anti FPI.

Saya jelas anti FPI karena kerjanya yang secara terus menerus melakukan kekerasan. Bentuk ancaman dan kekerasannya pun menimpa beragam tempat dari mulai klub-klub malam yang mereka anggap haram sampai ke warung Padang yang buka saat puasa dan bahkan sampai tempat diskusi yang seharusnya aman.

Apakah kalau anti FPI berarti saya tidak mau menjalani kebebasan berasosiasi? Berasosiasi itu adalah hak asasi manusia yang berkondisi (menurut saya). Seperti layaknya kebebasan berekspresi di Deklarasi HAM yang dibatasi oleh kovenan atau kesepakatan di masing-masing negara, saya rasa cukup jelas kenapa FPI tidak pantas meneruskan organisasinya. Kalau asosiai atau kebebasan berkelompok yang terjadi itu membawa rasa takut dan menganggu kemaslahatan umat secara umum, apa kelompok seperti itu masih boleh?

Apakah kalau anti FPI berarti saya bukan Islam sejati? Ah, terlalu sempit kalau berkesimpulan secepat itu dan apa yang mendefinisikan kita Islam sejati atau tidak? Hubungan itu hanya diketahui oleh Tuhan dan kita sendiri. Apakah kalau anti FPI itu pasti bagian dari Jaringan Islam Liberal (JIL)? Ah, terlalu sempit juga kalau mikir seperti itu. Apakah kalau anti FPI itu pasti sama pandangan/sejajar/sepakat banget dengan Ahmadiyah dan Irshad Manji? Ah, nggak juga. Keyakinan itu kompleks dan tidak bisa hanya dibagi dua, kiri dan kanan. Apakah kalau anti pasar pasti berarti sosialis/komunis. Atau kalau bukan sosialis pasti berarti neo liberal. Terlalu gampang dan bodoh bila berpikir sesederhana itu karena kalau buat saya, I am none of the above. My believe is more complex than that.

Sebagai warga negara yang taat bayar pajak, sebagai seorang Ibu yang punya anak dua, saya merasa berhak untuk meneriakkan bahwa saya anti FPI. Saya tidak mau hidup dalam ketakutan, ketakutan bahwa suatu saat nanti saya akan kena dampak dari kekerasan FPI. FPI yang seenaknya pakai nama Islam.

Lalu bagaimana dengan MMI yang kemarin merangsek ke diskusi Irshad Manji? Apakah kalau anti FPI itu berati hanya sebatas FPI. Well, nggak juga. Saya anti FPI dan semua organisasi yang sering melakukan kekerasan. Kalau nama FPI yang disebut karena FPI yang paling sering melakukan kekerasan –berdasarkan laporan media– dan yang paling saya lihat di keseharian saya sebagai warga Jakarta.

Itulah kenapa SAYA ANTI FPI dan saya berharap INDONESIA BEBAS DARI FPI. SELAMANYA.

Tulisan tambahan, Juli 2013

Tulisan diatas dibuat tahun 2012. Di bulan Juli 2013, ada insiden kasus bentrokan FPI dengan masyarakat Kendal. FPI memang preman penuh kekerasan.

Tulisan tambahan, 8 Desember 2013:

Kalau melihat di twitter (tidak generalisir di platform lain karena tidak aktif), sebagian orang itu dengan mudah melakukan dikotomi. Pembedaan antara ekstrem satu dengan ekstrem lainnya. Sepertinya, umat Islam di Indonesia itu hanya dua dimensi, yang menjadi bagian dari FPI atau Jaringan Islam Liberal. Padahal, ada banyak gradasi dalam soal kepercayaan.

Saya orang Islam, tetapi saya tidak mau Indonesia menjadi negara Islam. Kenapa? Karena sejatinya Indonesia itu plural. Dan bagaimana kalau kita mau hidup secara sejajar dan bersama tetapi hanya ada satu agama yang dipaksakan secara umum? Apa yang akan terjadi dengan hidup bersama? Garis besar negara ini adalah Konstitusi, UUD 1945 (beserta amandemen-nya). Garis besar hidup pribadi dan spiritual, itu pilihan individu.

Sebenarnya konstruksi soal “hidup bersama” ini sama seperti di industri penyiaran kita. Setelah lebih dari dua dekade kita hidup dalam paham bahwa semua berpusat di Jakarta, Jakarta adalah kota terpenting di Indonesia bahkan jaman dulu kalau mau wawancara televisi harus terbang ke Jakarta, maka hal itu berpengaruh pada bagaimana kita memandang diri sendiri. Dalam riset Hivos-CIPG-Manchester soal dampak ini memperlihatkan banyak mimpi orang yang hidup tidak di Jakarta menjadi sangat “ke Jakarta-Jakarta-an”. Teman saya dulu pernah juga riset soal radio di Indonesia. Isinya juga sama. Banyak radio menjadi sangat “ke Jakarta-Jakarta-an”. Identitas lain jadi seperti tidak penting. Sama seperti agama.

Indonesia bukan negara Islam dan tidak bisa menjadi negara Islam walaupun kita mayoritas beragama Islam. Karena sungguh, Indonesia itu majemuk…