Judul diatas mungkin terasa klise, tapi saya benar-benar merasa banyak mendapat pengalaman dan pengetahuan ketika hadir di Kendari sebagai panelis seminar nasional yang berjudul Penyiaran, Masyarakat Lokal, dan Perubahan Sosial tanggal 10 Juli 2007. Seminar ini diselenggarakan kerjasama banyak pihak, diantaranya adalah Aliansi Jurnalis Independen, Universitas Halu Oleo, WWF, Lestari dan Yayasan Bahari.

blog.jpg

Dua panelis lain adalah Imam Prakoso dari Combine Resources Institution dan Errol Jonathans dari Suara Surabaya. Pesertanya mayoritas berasal dari praktisi penyiaran –swasta maupun komunitas, mahasiswa dan beberapa orang dari lembaga negara yang terkait penyiaran seperti Komisi Penyiaran Indonesia-Daerah serta Balai Monitoring.

 

Saya belajar banyak dalam diskusi tersebut karena panelis lain beserta para peserta membawa inspirasi yang segar. Bisa jadi karena sebagian dari mereka datang dari kelompok swasta, sehingga diskusi menjadi lebih meriah dan berwarna. Antusiasme peserta yang positif juga membawa nuansa lain. Mereka secara aktif berdiskusi, non-stop (kecuali makan siang) dari jam sembilan pagi sampai jam enam sore; sesuatu yang jarang ditemui saat ini.

blog1.jpg

 

 

Memahami peran media dalam perubahan sosial tidaklah terlalu sulit. Banyak cerita yang dilontarkan panelis (termasuk saya) soal peran radio B92 saat krisis politik Serbia, peran radio Rwanda yang ikut memanasi genosida di Rwanda, peran radio komunitas di tingkat lokal seperti di Terban, Timbulhardjo ataupun di Lombok.

Hanya, menjalaninya adalah cerita yang berbeda.

Sebagian peserta mengeluh tentang ketidak percayaan diri mereka serta konteks Sulawesi Tenggara yang masih memandang medium radio sebelah mata. Apalagi, menurut mereka, kapasitas ber-radio mereka belum baik sehingga makin sulit meyakinkan orang lain.

Errol Jonathans, Direktur Suara Surabaya yang sudah menjadi praktisi radio selama 25 tahun berbagi cerita bagaimana dia menghadapi kesulitan-kesulitan. Suara Surabaya (SS), radio komersial yang mendapat catatan positif dari para pengamat media karena caranya mempertahankan nilai lokal — seperti melarang penyiar bergaya Jakarta atau Inggris-inggrisan– telah berupaya menjadi bagian dari agen perubahan sosial.

Karena latar belakangnya praktis, Errol bercerita dengan lancar bagaimana SS selama ini berupaya menjadi bagian dari keseharian masyarakat Surabaya Contoh yang menarik, dalam sejarah bersiarannya, SS telah membantu menghadang 16 pencurian mobil melalui partisipasi aktif pendengar dan polisi.

Terlihat sederhana memang, tapi saya rasa, itu adalah bagian dari peran radio. Saya jadi ingat juga bagaimana radio komunitas Balai Budaya Minomartani (BBM, Yogyakarta) membantu pendengar mencari pencuri sapi.

Visi

Dalam diskusi, banyak sekali muncul kata ‘visi’. Yang terpenting di sebuah media adalah diskusi mengenai visi dan misi media. Antar para pekerja media perlu secara sistematis, membicarakan tujuan dari radio ini, apa yang penting bagi pendengar dan bagaimana hal itu bisa dihubungkan dengan visi media. Istilah kerennya, secara sadar melakukan internalisasi visi.

Ambil contoh radio SS. Visinya adalah “sumber pemberdayaan dan kegiatan demokratisasi masyarakat, melalui usaha kegiatan media massa yang mengikuti perkembangan teknologi komunikasi dan telekomunikasi”.

Sebagai bagian dari demokratisasi masyarakat ini artinya SS berupaya menjadi bagian dalam pemberdayaan masyarakat. Contoh yang dikemukakan misalnya SS dimanfaatkan khalayak untuk situasi darurat seperti: bencana, kecelakaan lalu lintas, pasien butuh darah, pencurian, orang tua “hilang”, atau kritik kinerja pemerintah lokal, sosialisasi kebijakan lokal (DPRD+Eksekutif). Karena pelibatan aktif pendengar, SS mencatat di tahun 2007, SS memiliki sekitar 250.000 nama sebagai informan.

blog3.jpg

 

Keberlanjutan radio komunitas

Ada hal lain yang menarik dalam diskusi. Saya bertanya pada semua peserta soal bagaimana radio komunitas bisa terus berkelanjutan. Pertanyaan ini didasari keputusasaan saya, sebagai pengamat radio komunitas, untuk mencari resep jitu cara radio komunitas bisa berlanjut. Berlanjut ini bisa dalam konteks fisik seperti, peralatan radio, orang-orang yang bekerja, program radio atau yang non fisik seperti visi-misi dan fungsi radio komunitas.

Filipina dan Afrika Selatan, dua negara yang di awal pergerakan radio komunitas di Indonesia, sekitar tahun 2000-an menjadi rujukan, ternyata landscape radio komunitasnya sekarang berbeda. Posisi radio komunitas di dua negara itu tidaklah sebaik tahun 2000-an.

Menurut rekan saya yang bekerja di lembaga donor di Afrika Selatan, kemunduran radio komunitas di sana sampai pada pengikisan visi radio komunitas. Saat ini , mayoritas lembaga pendukung radio komunitas sibuk mengingatkan kembali apa esensi dari radio komunitas.

Di diskusi pertanyaan itu saya lontarkan dan banyak mendapat tanggapan. Cukup menarik karena banyak cerita, juga dari sektor swasta yang bisa menjadi inspirasi. Antara lain seperti ini,

Jangan boros, memiliki banyak keinginan tapi energi terbatas. Kalau radio komunitas hanya bisa ber-siaran 4 jam, jangan dipaksakan menjadi 24 jam.

Bedakan dari awal masing-masing peran di radio komunitas dan dibahas secara detil. Ada radio komunitas biasanya terpatok pada satu atau dua orang yang menjadi pendiri sekaligus penyiar sekaligus yang punya tempat. Kalau begini, maka akan cepat habis energi.

Jangan tergantung pada satu atau dua orang pekerja radio. Kendati sulit, radio komunitas atau penyelenggara harus menyediakan lapisan kedua untuk pekerja di radio kedua sesegera mungkin. Lapisan kedua itu harus mendapat delegasi pekerjaan sehingga bila lapisan pertama pekerja radio keluar, radio komunitas tidak tergagap-gagap.

Sebisa mungkin peralatan radio komunitas dibuat di wilayah setempat agar saat terjadi kerusakan mudah dibetulkan.

Kreatif. Persoalan di radio komunitas tidak akan pernah selesai, itu fakta. Tetapi bagaimana pengelola melihat persoalan dan mencari jalan secara kreatif itu yang penting. Keterlibatan pendengar juga penting karena mereka bisa diminta bantuan.

Tips diatas adalah inspirasi saja bukan resep yang manjur. Karena sebenarnya tidak ada resep khusus yang bisa menyelesaikan semua hal. Radio komunitas itu sangat unik sehingga penyelesaian persoalannya pun unik.

Tapi buat saya, ide-ide sangat membantu dalam menganalisa persoalan. Karena ide-ide inilah, saya jadi semangat lagi. Mudah-mudahan anda juga merasa begitu.

Pictures: courtesy of Ibu Nunung – Errol Jonathans